May 29, 2007

Aku Mau

Kau boleh acuhkan diriku dan anggap ku  tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku ... kepadamu

Kuyakin pasti suatu saat semua kan terjadi
Kau kan mencintaiku dan tak akan pernah ... melepasku

Aku mau mendampingi dirimu ...
Aku mau cintai kekuranganmu ...
Selalu bersedia bahagiakanmu ...
Apapun terjadi ... kujanjikan aku ada

Kkau boleh jauhi diriku ... namun kupercaya
Kau kan mencintaiku dan tak akan pernah ... melepasku

Aku mau mendampingi dirimu ...
Aku mau cintai kekuranganmu ...
Selalu bersedia bahagiakanmu ...
Aku yang rela terluka ... untuk masa lalu

Download lagunya di sini

October 25, 2006

Minal Aidin Wal Faidzin

Minalaidinwalfaidzin_1



October 02, 2006

Marhaban Ya Ramadhan

Bulan Ramadhan 1427 H telah tiba, saatnya umat Islam menjalankan ibadah puasa (bagi yang menjalankan). Awal Ramadhan ini aku lewatkan di Kota Madiun bersama Aditya AKA Ndoweh. Awalnya ingin berangkat pada Sabtu malam sekita pukul 22.00. Tapi akhirnya kami batalkan karena sesuatu hal. Akhirnya kami putuskan berangkat esok harinya, dan menginap di rumahku sambil menunggu sahur pertama.
Sambil menonton pertandingan Liga Itali antara AC Milan vs Livorno, kami berdua menikmati makan sahur (dalam hatiku bertanya-tanya, puasakah diriku hari ini).

Kami berangkat menuju Madiun sekitar pukul 7 pagi dengan berkendara motor. Perjalanan yang kami tempuh dari Kota Batu Kota mBatu ke Madiun sekitar 3,5 jam. Sebuah perjalanan yang melelahkan dengan deru kendaraan yang berlalu lalang. Udara yang panas serta terik matahari serasa menyengat perjalanan kami (dan di dalam lubuk hati masih bertanya-tanya, puasakah diriku hari ini).

Akhirnya sampai juga di Kota Madiun, tepatnya rumah istri Ndoweh, Ama yang sedang hamil tua karena ulah suaminya :D. Disana kami disambut bak pahlawan yang pulang dari medan laga, dengan peluh yang bercucuran. Kami berdua pun akhirnya tergeletak tak berdaya sambil menonton TV yang kebetulan saat itu TV7 menayangkan Moto GP (di hati ini semakin berkecamuk sebuah pertanyaan, puasakah diriku hari ini).

Adzan maghrib pun berkumandang, alhamdulillah. Menu buka puasa pun sudah siap di meja makan dengan segala macam pilihan. Buka puasa pertama di bulan Ramadhan ini aku lewatkan di Madiun.(dan masih saja, di hati ini bertanya-tanya, puasakah diriku hari ini). Seusai berbuka puasa, kami berdua berencana sholat taraweh. Dengan mengendarai motor, kami mencari masjid untuk di setiap sudut kota Madiun. Mungkin karena belum begitu mengenal jalan di sana, kami pun tersesat disebuah pusat keramaian, yaaa … alun-aun Kota Madiun. Karena untuk melanjutkan mencari masjid sudah tidak mungkin lagi, kami pun berhenti di alun-alun tersebut menikmati udara malam kota Madiun serta makanananya.

Yah, Ramadhan pertama aku lewatkan di sebuah kota asing, namun sayang bukan bersama seseorang yang aku harapkan :P

Taken from Puncak Abadi Para Dewa

August 03, 2006

Aku Masih Manusia Biasa

seperti angin yang menerpa pucuk dedaunan
seperti ombak yang menerpa batu karang
seperti itulah sebuah cinta dihadapkan pada kenyataan hidup
melangkahkan kaki diatas bebatuan terjal

jika dirimu masih percaya pada sebuah cinta
mengapa keraguan itu terus kau torehkan dihati
menyemai benih-benih dendam yang membara
meruntuhkan tembok kepercayaan yang kita bangun bersama

aku ini hanya seorang manusia biasa
yang tak mungkin akan selalu sempurna
namun dihati ini ada sebuah asa
aku kan selalu ada disisimu apapun yang terjadi

kehidupan adalah perjalanan dari sebuah tujuan
dan dirimulah tujuan dari perjalanan hidup ini
meskipun semusim dulu kau bukan apa-apa
namun kini kau telah menghiasi palung hati ini

betapa telah kuserahkan hati dan jiwaku
untuk menjalani sisa hidup ini bersamamu
selama kita mampu bersandar pada kekuatan cinta
semua pasti akan berakhir indah

July 30, 2006

Seandainya ...

kini baru aku sadari
cinta bisa hadir tanpa disadari
dengan perlahan tapi pasti
merasuk dijiwa ini

perasaan ini takkan pernah aku mengerti
sejenak khilafku lupakan dia miliki diriku

seandainya cinta ini tak pernah terjadi
takkan ada air mata dan hati perih terluka

saat cinta mengetuk hati
aku pun tak kuasa untuk menghindari
meski aku telah berdua
aku jatuh cinta lagi

Cinta Terakhir

sedalam samudera tlah aku selami
setinggi langit diangkasa tlah ku arungi
sepanjang kehidupanku aku mencari
sebentuk kelembutan hati cinta yang sejati

kini usai sudah segala penantian panjangku
setelah temukan dirimu duhai kekasihku
hanya dihatimu akan kulabuhkan hidupku
karena kaulah cinta terakhirku

berjuta kejora terangi gelap malamku
tetap tak seindah cahaya mata hatimu

Ari Lasso - Selalu Ada

Alass_selaluada_1Sebuah Perjalanan Panjang karir bermusik Ari Lasso setelah berpisah dengan Belahan Jiwa yang telah melambungkan namanya, grup band Dewa 19, mungkin tergolong mulus. Seperti kita ketahui, Ari Lasso sempat mengalami masa-masa kelam bergelut dengan narkoba. Seandainya dia tak mampu bangkit, mungkin aku, Kau, dia, mereka semua tak 'kan pernah bisa lagi menikmati suara Lirih Ari Lasso ketika membawakan tembang-tembang indahnya. Keinginannya untuk bangkit pun Berakhir Indah, dan Ari Lasso memang Selalu Ada untuk kita. Tuhan Kau Tahu, Sampai Kapan pun dia akan tetap menghiasi tempat tersendiri di hati penggemarnya. Tolonglah Aku (Kucinta Dia)...

Puncak Abadi Para Dewa

June 23, 2006

Mahameru

Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut Ranu Kumbolo

Menatap jalan setapak
Bertanya - tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak Abadi Para Dewa

December 16, 2005

Manusia Biasa

Wangi tubuhmu menusuk aliran darahku
Seakan aku terbius harumnya
Api di hati semakin membara
Lelehkan jiwa yang membeku

Jiwaku yang luruh terbalut hanyut rindu
Melebur keinginan jiwa terbang menembus awan
Getarkan dinding hati di palung terdalam
Tak ingin aku terbuang tersisa terlupa

Lupakan sejenak jalannya waktu
Asmara dulu cerita lalu
Aku mungkin hanya manusia biasa
Hitam putihnya lebur di tubuh fana ini


taken from my main blog Puncak Abadi Para Dewa

(Bukan) Rayuan Gombal

Kaulah bintang yang menghiasi malam
Kaulah embun yang menyegarkan pagi
Kaulah mentari yang memayungi siang
Kaulah destinasi akhir cintaku

Aku memujamu bagai seorang putri
Aku mendambamu laksana sebuah surga
Aku mencintaimu bagai sebongkah tulang
Tak kan musnah meski terkubur

Apalah arti tangan ini bila tak kau genggam
Apalah arti bibir ini bila tak kau kecup
Apalah arti hati ini bila tak kau sentuh
Apalah arti hidup ini bila tak memilikimu

Haruskah kubiarkan rasa lapar menggigitku
Haruskah kubiarkan rasa haus membakarku
Haruskah aku mati dan binasa
Demi memanggil cintamu, merangkul sayapmu

taken from my main blog Puncak Abadi Para Dewa